Membaca blogpost Widi Asmoro tentang band Noah yang mendistribusikan album terbarunya bekerjasama dengan TransCorp lewat jaringan pasar swalayan Carrefour (setelah pada album sebelumnya mereka bekerja sama dengan KFC) mengingatkan saya saat di jaman dulu saya mencoba ‘mengakali’ jalur distribusi CD lewat jaringan toko buku QB milik Richard Oh yang sekarang sudah  tidak beroperasi lagi diawal tahun 2000an.

Anyway alasan saya dulu adalah karena sistim jalur tertutup distribusi rekaman musik yang dikuasai jaringan kartel rekaman tidak memungkinkan bagi semua artis maupun band dengan bebas menjual hasil karya mereka tanpa harus syarat dan ketentuan dari kartel tersebut, yang memang pada saat itu cukup memberatkan. Widi mengakhiri blogpostnya dengan pertanyaan yang menggelitik, yaitu apakah dengan memastikan ketersediaan CD rekaman dalam jalur distribusi maka akan menjamin penggemar musik untuk membelinya ditengah mudahnya mendapatkan musik dengan format digital?

Dobrakan? Come on…guys

Saya pikir pertanyaan Widi tersebut sangat relevan karena saat ini generasi pendengar musik sudah memasuki era dimana untuk mendengarkan musik tidak perlu lagi menggunakan CD + playernya. Hampir di semua perangkat ponsel, media player sudah tersedia, dan hampir semua juga mendengarkan musik dari perangkat ponsel mereka. Lalu why bother band sebesar Noah mau tetap merilis album mereka dan bersusah payah untuk medistribusikan CD mereka lewat jalur-jalur distribusi alternatif seperti Carrefour tersebut pada saat pendengar mereka sudah tidak mau mendengarkan lagu lewat CD player lagi.

Kalau saja band seperti Noah melakukannya di jaman dulu, mungkin ini akan disebut dengan dobrakan karena mendistribusikan musik lewat jalur distribusi alternatif belumlah dikenal, plus format CD masih cukup relevan untuk dipertimbangkan, sedangkan saat ini dimana mencari Discman/Portable CD player saja susahnya minta ampun membuat apa yang dilakukan oleh Noah dan TransCorp jadi dobrakan yang kesiangan ya (hal yang sama juga dilakukan oleh Music Factory, nama perusahaan yang menjadikan KFC sebagai jalur distribusi).

OK! Digital

Nah tantangan yang sebenarnya justru datang dari penikmat musik itu sendiri yang bisa dikatakan sudah mulai mengadopsi digital kesemua sendi kehidupan mereka. Seminggu yang lalu saya menyempatkan diri ke beberapa toko perangkat elektronik dan mencari apakah portable CD player yang dikenal secara generik dengan Discman (TMnya Sony) dan hanya beberapa toko komputer yang menjualnya. Penjualnya bilang bahwa CD player sekarang tidak laku lagi karena penikmat musik lebih suka mendengarkan musik di ponsel mereka.

Pertanyaan besar yang muncul dikepala saya pada saat ini adalah, apakah label-label musik yang terus merilis album artis-artis mereka dalam bentuk CD tidak mengikuti perkembangan ini? Menurut Anda bagaimana?

Foto: Fadly/Fajar

 

Iklan